Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asuransi Syariah, Solusi Terbaik Berasuransi Sesuai Dengan Syariat Agama

Ditengah maraknya Asuransi Konvensional yang ada, tentu hadirnya Asuransi Syariah menjadi daya tarik tersendiri bagi umat muslim di negeri ini. Dengan adanya Asuransi Syariah maka berasuransipun menjadi tenang tanpa ragu-ragu akan kehalalannya karena  sumbernya asuransi syariah jelas berdasarkan Al Qur'an, Hadist, dan Ijma (ijtihad). 

Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam, menganggap pelaksanaan asuransi konvensional yang sudah ada kini tidak sesuai dengan prinsip syariah karena mengandung unsur ketidakjelasan (gharar), unsur perjudian (maisir), dan unsur bunga (riba). 

Sebenarnya cikal bakal Asuransi Syariah ini sudah ada di arab sejak zaman sebelum Rasullulah SAW. Asuransi ini merupakan budaya dari suku arab kuno, yang mana mereka menyebutnya dengan aqilah. Kata aqilah sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai saling memikul dan bertanggung jawab bagi keluarga.

Pengertian Asuransi Syariah

asuransi syariah terbaik

Asuransi Syariah itu apa ya? Berikut ini adalah pengertian Asuransi Syariah yang telah kami rangkum dari beberapa sumber.

Asuransi Syariah adalah sebuah usaha untuk saling melindungi dan saling tolong menolong diantara para peserta (pemegang polis), yang dilakukan melalui pengumpulan dan pengelolaan dana tabbaru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan prinsip syariah. 

Sedangkan menurut UU nomor 40 tahun 2014, Asuransi Syariah adalah kumpulan perjanjian, antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi dengan cara :

Memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita peserta atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti, atau ;

Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya peserta atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya peserta dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Prinsip-prinsip dalam Asuransi Syariah

Prinsip dasar yang ada dalam Asuransi Syariah tidaklah jauh berbeda dengan prinsip dasar yang berlaku pada konsep ekonomi islam secara komprehensif dan bersifat umum. 

Terdapat 9 prinsip yang harus diterapkan didalam asuransi syariah, yakni :

1. Tauhid

Prinsip Tauhid adalah dasar utama dari setiap bangunan yang ada dalam syariah islam. Artinya bahwa dalam setiap gerak langkah serta bangunan hukum harus mencerminkan nilai-nilai ketuhanan.

Sedangkan dalam asuransi yang harus diperhatikan adalah bagaimana seharusnya menciptakan suasana dan kondisi bermuamalah yang tertuntun oleh nilai-nilai ketuhanan.

2. Keadilan

Prinsip kedua dalam berasuransi adalah terpenuhinya nilai-nilai keadilan antara pihak-pihak yang terikat dengan akad asuransi. Keadilan dalam hal ini sebagai upaya dalam menempatkan hak dan kewajiban antara nasabah dan perusahaan asuransi. 

3. Tolong Menolong

Dalam berasuransi harus disadari dengan semangat tolong menolong antara anggota. Seseorang yang masuk dalam asuransi, sejak awal haruslah memiliki niat dan motivasi dalam membantu dan meringankan beban saudaranya yang ada pada suatu ketika mendapatkan musibah atau kerugian. 

4. Kerjasama

Prinsip kerjasama merupakan prinsip yang universal yang selalu ada dalam literatur ekonomi islam. Pada bisnis asuransi, kerjasama dapat berbentuk akad yang dijadikan acuan antara kedua belah pihak yang terlibat yaitu antara anggota (nasabah) dan perusahaan asuransi. 

Dalam operasionalnya, akad dipakai dalam bisnis asuransi dapat memakai konsep mudharabah dan musyawarah. Konsep ini adalah dua buah konsep dasar dalam kajian ekonomi islam dan mempunyai nilai historis dalam perkembangan keilmuan. 

5. Amanah

Prinsip amanah dalam organisasi perusahaan dapat terwujud dalam nilai-nilai akuntabilitas (pertanggung jawaban) perusahaan melalui penyajian laporan keuangan tiap periode. 

Begitu juga akan halnya nasabah asuransi, amanah dalam konteks ini adalah nasabah asuransi berkewajiban dalam menyampaikan informasi yang benar berkaitan dengan pembayaran dana iuran (premi) dan tidak memanipulasi kerugian yang menimpa dirinya. 

6. Kerelaan

Prinsip kerelaan dalam ekonomi islami antara kedua belah pihak bertransaksi atas dasar kerelaan bukan paksaan. Dalam asuransi syariah, kerelaan dapat diterapkan kepada setiap anggota agar mempunyai motivasi dalam merelakan sejumlah dana yang disetorkan kepada perusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai dana sosial (tabarru'). 

7. Larangan Riba

Dalam setiap transaksi, seorang muslim tidak dibenarkan untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak dibenarkan atau secara bathil. Pada asuransi syariah masalah riba dieliminir dengan konsep Mudharabah (bagi hasil). 

8. Larangan Maisir (Judi) 

Prinsip larangan Maisir (judi) dalam sistem asuransi syariah adalah untuk menghindari satu pihak yang untung sementara dilain pihak merugi. Asuransi syariah harus tetap berpegang teguh menjauhkan diri dari unsur judi dalam berasuransi. 

9. Larangan Gharar (Ketidakpastian) 

Gharar dalam pandangan ekonomi islam terjadi apabila dalam suatu kesepakatan/perikatan antara pihak-pihak yang terikat terjadi ketidakpastian dalam jumlah keuntungan (profit) maupun modal yang dibayarkan (premi).

Dengan adanya prinsip-prinsip ini menjadikan para nasabah atau peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan lainnya saling menjamin dan menanggung resiko.

Dasar Hukum Asuransi Syariah

Secara umum dasar hukum atau pengaturan operasional Asuransi Syariah bersumber dari hukum dalam islam yang utama dan disepakati ulama yaitu ada 4 yakni Al Qur'an, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas. 

Selain dasar hukum Al Qur'an dan as-Sunnah untuk pengaturan asuransi syariah saat ini merujuk pada Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI. 

Berikut adalah dasar hukum Asuransi Syariah :

Pasal 1 ayat 1 fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.21/DSN-MUI/X/2001 adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang / pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabbaru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah;

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.424/KMK.06/2003 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi;

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.426/KMK.06/2003 Tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Reasuransi;

Keputusan Dirjen Lembaga Keuangan No.Kep.4499/LK/2000 Tentang Jenis, Penilaian, dan Pembatasan Reasuransi dengan Sistem Syariah.

Penyelenggaraan Asuransi Syariah

Proses penyelenggaraan asuransi syariah terbagi menjadi 2 yaitu :

Pembuatan Akad, Perjanjian yang digunakan adalah perjanjian tolong menolong (akad takaful) atau perjanjian kebaikan (akad tabbaru) dan perjanjian bagi hasil (akad mudharabah). Perusahaan asuransi telah menyediakan rekening khusus sebagai dana tolong menolong yang telah diniatkan secara ikhlas oleh peserta pada saat menjadi peserta asuransi. Oleh karena itu ketika pertama kali membayar premi penempatannya dipisah menjadi dua, yaitu pada rekening peserta dan rekening tabbaru yang besarnya pada rekening tabbaru tergantung usia, sehingga jika ada peserta yang meninggal atau mengambil uang tunai dapat diambil di rekening itu. 

Konsep Bagi Hasil (Akad Mudharabah), Pengaturan penempatan dana pada pihak ketiga beserta bagi hasil diatur dalam akad (perjanjian).

Manfaat Asuransi Syariah

Sebagaimana asuransi pada umumnya, asuransi syariah juga memberikan manfaat bagi para pesertanya (pemenang polis) antara lain :

  • Rasa aman dan perlindungan
  • Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil
  • Berfungsi sebagai tabungan
  • Alat penyebaran resiko
  • Memberikan tingkat kepastian

Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional

Berikut ini adalah perbedaan antara Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional yakni :

Prinsip akad Asuransi Syariah adalah Takafuli yaitu tolong menolong, dimana nasabah yang satu menolong yang lainnya yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan Prinsip akad Asuransi Konvensional adalah bersifat Tadabuli yaitu jual beli antara nasabah dengan perusahaan asuransi.

Dalam Asuransi Syariah dana yang terkumpul dari nasabah di investasikan secara syariah dengan sistem bagi hasil (Mudharabah). Sedangkan pada Asuransi Konvensional, investasi dana dilakukan di sembarang sektor dengan sistem bunga. 

Pada Asuransi Syariah dana yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah, perusahaan hanyalah pemegang amanah untuk pengelolaannya. Sedangkan Asuransi Konvensional premi menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dananya. 

Pada Asuransi Syariah apabila ada peserta yang terkena musibah maka pembayaran klaim nasabah diambil dari rekening Tabarru' (dana sosial). Lain halnya Asuransi Konvensional dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

Dalam Asuransi Syariah keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelolah dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan Asuransi Konvensional keuntungan sepenuhnya milik perusahaan.

Dari uraian artikel tersebut dapat disimpulkan bahwa letak perbedaan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional adalah bagaimana resiko itu dikelola dan ditanggung. 

Keuntungan Asuransi Syariah

Pada dasarnya setiap setiap asuransi itu baik asuransi konvensional maupun berupa asuransi syariah mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nah apa saja sih keuntungan dari asuransi syariah itu sendiri, berikut ringkasannya :

1. Pengelolaan Dana Menggunakan Prinsip Syariah Islami

Hal ini menjadi salah satu perbedaan yang cukup signifikan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah dimana pengelolaan dana oleh perusahaan asuransi syariah harus memenuhi prinsip-prinsip syariah.

Sebagai contoh, dana tersebut tidak dapat diinvestasikan pada saham dari emiten yang memiliki kegiatan usaha perdagangan / jasa yang dilarang menurut prinsip syariah, termasuk perjudian atau kegiatan produksi dan distribusi barang dan jasa haram berdasarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). 

2. Transparansi Pengelolaan Dana Pemegang Polis

Pengelolaan dana oleh perusahaan asuransi syariah dilakukan secara transparan, baik terkait pengggunaan, kontribusi dan surplus underwriting maupun pembagian hasil investasi. Pengelolaan dana tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan keuntungan bagi pemegang polis secara kolektif maupun secara individu.

3. Pembagian Keuntungan Hasil Investasi

Hasil investasi yang diperoleh dapat dibagi antara pemegang polis (peserta),baik secara kolektif dan atau individu, dan perusahaan asuransi syariah, sesuai dengan akad yang digunakan. 

Hal ini berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional yang hasil investasinya merupakan milik perusahaan asuransi, kecuali untuk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi. 

4. Kepemilikan Dana

Pada asuransi konvensional, seluruh premi yang masuk adalah menjadi hak milik perusahaan asuransi, kecuali premi pada produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi yang terdapat bagian dari premi yang dialokasikan untuk membentuk investasi atau tabungan. 

Sedangkan pada asuransi syariah, kontribusi (premi) tersebut sebagian menjadi milik perusahaan asuransi syariah sebagai pengelolah dana dan sebagian lagi menjadi milik pemegang polis secara kolektif atau individual. 

5. Tidak Berlaku Sistem "Dana Hangus"

Premi yang disetorkan secara tabbaru dalam asuransi syariah tidak akan hangus meskipun tidak terjadi klaim selama masa perlindungan. Dana yang telah dibayarkan oleh pemegang polis tersebut akan tetap diakumulasikan didalam dana tabbaru yang merupakan milik pemegang polis secara kolektif.

6. Adanya Alokasi dan Distribusi Surplus Underwriting

Dalam sektor asuransi syariah, dikenal istilah surplus underwriting yaitu selisih lebih dari total kontribusi pemegang polis kedalam dana tabbaru setelah ditambah recovery klaim dari reasuransi setelah dikurangi pembayaran santunan/klaim, kontribusi reasuransi, dan penyisihan teknis dalam satu periode tertentu.

Pada asuransi konvensional, seluruh surplus underwriting menjadi milik perusahaan asuransi sepenuhnya, namun dalam asuransi syariah surplus underwriting tersebut dapat dibagikan ke dana tabbaru, pemegang polis yang memenuhi kriteria, dan perusahaan asuransi sesuai dengan persentase yang telah ditetapkan didalam polis.

Produk Asuransi Syariah

Untuk produk asuransi syariah itu sendiri, saat ini tersedia sangat beragam dan jenis-jenisnya hampir sama dengan yang biasanya ditemukan di asuransi konvensional. 

Secara umum produk asuransi syariah dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Produk asuransi syariah yang memberikan manfaat berupa santunan atau penggantian jika terjadi suatu musibah, misalnya sakit, kecelakaan, kerusakan, dan atau kehilangan harta benda serta meninggal dunia. 

Produk asuransi yang memberikan manfaat asuransi berupa santunan jika peserta meninggal dunia dan manfaat berupa hasil investasi. Pada produk ini, sebagian premi yang dibayarkan oleh peserta akan dialokasikan untuk dana tabarru dan sebagian lainnya dialokasikan menjadi investasi peserta.

Demikianlah ulasan mengenai Asuransi Syariah, Solusi Terbaik Berasuransi Sesuai Dengan Syariat Agama. Semoga dapat menambah wawasan kamu mengenai asuransi syariah itu sendiri, sehingga nantinya bisa menjadi alternatif pilihanmu dalam memilih asuransi yang tepat untukmu.